Dishub Tegas pada Sopir Bus Trans Jatim Ugal-ugalan
www.bikeuniverse.net – Sorotan publik kembali tertuju pada sopir bus trans jatim setelah sebuah video ugal-ugalan viral di media sosial. Rekaman itu memperlihatkan manuver berbahaya di jalan raya, memicu kecaman warganet sekaligus memantik pertanyaan besar: seberapa aman kita ketika mempercayakan nyawa kepada angkutan umum? Dinas Perhubungan (Dishub) merespons cepat, menindak tegas oknum sopir yang diduga melanggar prosedur keselamatan berkendara.
Kasus ini bukan insiden pertama yang menyeret nama sopir bus trans jatim, tetapi kali ini reaksi otoritas terlihat lebih tegas. Publik menuntut perubahan nyata, bukan sekadar pernyataan maaf atau janji pembinaan rutin. Di balik bus ber-AC dan tarif terjangkau, ada sistem yang seharusnya menjaga penumpang tetap aman. Saat satu saja sopir lalai, kepercayaan masyarakat ikut terguncang.
Transportasi massal seperti bus Trans Jatim dirancang untuk menjadi tulang punggung mobilitas warga. Namun, ketika sopir bus trans jatim tertangkap kamera melaju zig-zag, menyalip sembrono, atau melanggar batas kecepatan, tujuan mulia itu berubah jadi ancaman. Setiap penumpang berharap tiba di tujuan dengan selamat, bukan terjebak ketegangan sepanjang perjalanan akibat gaya mengemudi agresif.
Fenomena ugal-ugalan ini sebenarnya puncak dari rangkaian persoalan yang kerap diabaikan. Tekanan mengejar target setoran, jadwal ketat, kondisi jalan padat, hingga budaya kerja yang menormalisasi pelanggaran, ikut membentuk pola berkendara berisiko. Sopir bus trans jatim berdiri di persimpangan antara tuntutan ekonomi pribadi dan kewajiban menjaga nyawa banyak orang di kursi belakang.
Dari sudut pandang penumpang, kecepatan tinggi kadang dianggap menguntungkan karena tiba lebih cepat. Namun persepsi keliru tersebut sering menyamarkan bahaya laten. Sedikit saja salah perhitungan, kecelakaan dapat terjadi. Karena itu, perilaku satu sopir bus trans jatim yang nekat bukan sekadar urusan pribadi, melainkan isu keselamatan publik. Di sinilah peran Dishub menjadi krusial.
Dishub merespons insiden terbaru dengan memanggil sopir bus trans jatim yang terlibat, melakukan pemeriksaan, hingga menjatuhkan sanksi. Sanksi bisa berupa skors, pencabutan izin mengemudi, atau kewajiban mengikuti pelatihan ulang. Langkah ini memberikan pesan kuat bahwa pelanggaran tidak akan dibiarkan, terutama jika menyangkut keselamatan lalu lintas. Namun, publik berhak bertanya: apakah penindakan setelah kejadian sudah cukup?
Sikap tegas penting, tetapi pencegahan jauh lebih bernilai. Menurut pandangan pribadi saya, sistem pengawasan sopir bus trans jatim perlu bertransformasi dari model reaktif menjadi proaktif. Bukan hanya menunggu video viral, lalu heboh sesaat. Pengelola layanan idealnya menerapkan pemantauan berbasis teknologi seperti GPS, telematika untuk memantau kecepatan, hingga dashboard skor perilaku mengemudi setiap sopir.
Jika sistem mampu mendeteksi pola ngebut berulang, pengereman mendadak, atau rute menyimpang, Dishub serta operator dapat memberi peringatan lebih awal sebelum terjadi kecelakaan. Di tahap ini, sopir bus trans jatim diajak memperbaiki cara mengemudi secara bertahap, bukan sekadar dihukum ketika sudah terlanjur viral. Pendekatan ini menyeimbangkan aspek disiplin serta pembinaan berkelanjutan.
Sering kali publik hanya melihat wajah sopir bus trans jatim di garis depan lalu segera menghakimi. Padahal di balik kursi kemudi, ada tekanan struktural yang perlu diurai. Target pendapatan, jadwal ketat, insentif berbasis jumlah perjalanan, hingga minimnya dukungan psikologis turut memengaruhi kestabilan emosi di jalan. Sopir yang lelah, stres, atau cemas cenderung mengambil keputusan berisiko tinggi.
Faktor rekrutmen juga berperan besar. Tidak semua sopir bus trans jatim menjalani proses seleksi ketat yang menilai rekam jejak, keterampilan defensif, dan sikap terhadap keselamatan. Kadang fokus perusahaan hanya pada kemampuan menyetir, bukan pada kematangan mental serta kedisiplinan. Akibatnya, orang dengan kebiasaan melanggar lalu lintas berpotensi lolos masuk sistem.
Dari perspektif saya, kualitas pelatihan perlu dirombak. Bukan sekadar mengajarkan cara mengoperasikan kendaraan besar, namun menanamkan etika profesi sebagai pengemudi publik. Sopir bus trans jatim memikul amanah sosial, mirip pilot pesawat yang dipercaya membawa banyak nyawa sekaligus. Pendidikan soal manajemen emosi, komunikasi dengan penumpang, hingga kesadaran risiko harus menempati posisi utama.
Penegakan disiplin tidak bisa mengandalkan Dishub semata. Penumpang punya suara yang sangat menentukan. Mereka dapat melaporkan sopir bus trans jatim yang berkendara agresif melalui kanal pengaduan resmi, nomor layanan pelanggan, atau aplikasi. Sayangnya, sebagian orang memilih diam karena merasa laporan tidak akan direspons, atau takut dianggap merepotkan.
Sikap pasif justru membuat pola ugal-ugalan terus berulang. Jika penumpang berani menegur sopir secara sopan ketika bus melaju terlalu cepat, dampaknya bisa langsung terasa. Teguran kolektif dari beberapa penumpang memberi sinyal kuat bahwa perilaku berbahaya tidak diterima. Di sisi lain, mengapresiasi sopir bus trans jatim yang tertib juga penting, misalnya melalui pujian di media sosial atau laporan positif ke operator.
Menurut pendapat saya, budaya keselamatan harus dibangun dua arah. Sopir bus trans jatim perlu menghargai rasa aman penumpang, sementara penumpang menghargai profesionalitas sopir. Ketika keduanya menyadari hubungan saling bergantung, tekanan untuk berkendara aman akan muncul bukan hanya dari atasan, tetapi juga dari penumpang di kursi belakang.
Era digital membuka peluang besar untuk mengawasi kinerja sopir bus trans jatim secara objektif. Perangkat GPS, sensor kecepatan, dan kamera kabin mampu merekam perilaku mengemudi tanpa bergantung sepenuhnya pada saksi mata. Data kecepatan rata-rata, durasi melampaui batas, hingga insiden pengereman mendadak dapat diolah menjadi indikator risiko.
Operator bus kemudian memakai data tersebut sebagai dasar evaluasi. Sopir bus trans jatim dengan skor keselamatan rendah wajib mengikuti pelatihan tambahan, sementara yang disiplin memperoleh insentif. Pendekatan berbasis data ini lebih adil karena menilai kinerja harian, bukan sekadar satu kejadian viral. Transparansi data juga bisa dipublikasikan secara agregat untuk membangun kepercayaan publik.
Saya melihat teknologi bukan musuh sopir, melainkan pelindung. Dengan rekaman jelas, sopir bus trans jatim terlindungi dari tuduhan sepihak ketika insiden terjadi bukan karena kesalahan mereka, misalnya akibat pengendara lain yang memotong jalur. Di saat bersamaan, data objektif memberi dasar kuat bagi Dishub untuk bertindak tegas terhadap pelanggar berulang.
Regulasi bisa mengatur batas kecepatan, jam kerja, serta sanksi. Namun tanpa perubahan budaya, aturan sering berhenti di atas kertas. Budaya keselamatan baru terbentuk ketika setiap sopir bus trans jatim merasa bangga saat pulang ke rumah dengan catatan nol pelanggaran, bukan dengan cerita betapa cepat ia menyalip kendaraan lain. Penghargaan internal dari perusahaan sangat berperan membentuk kebiasaan tersebut.
Program penghargaan sopir teladan, sesi berbagi pengalaman kecelakaan, sampai kampanye internal tentang kisah keluarga yang menanti di rumah dapat menyentuh sisi emosional. Sopir bus trans jatim bukan mesin, mereka manusia dengan anak dan pasangan. Mengingatkan aspek kemanusiaan membantu menekan kecenderungan mengambil risiko hanya demi beberapa menit lebih cepat.
Dari sudut pandang pribadi, perubahan budaya memang proses panjang, tetapi paling berkelanjutan. Ketika sopir baru masuk lingkungan kerja yang menjunjung tinggi keselamatan, ia cenderung menyesuaikan diri. Tekanan sosial positif dari rekan sejawat akan menekan perilaku ugal-ugalan. Di titik ini, tugas Dishub hanyalah mengawal standar, sementara komunitas sopir sendiri menjadi penjaga garda depan.
Kasus sopir bus trans jatim ugal-ugalan seharusnya menjadi titik balik, bukan sekadar bahan sensasi sementara. Penindakan tegas Dishub penting sebagai sinyal bahwa keselamatan adalah harga mati. Namun langkah itu harus diikuti perbaikan sistem rekrutmen, pengawasan teknologi, pelatihan karakter, hingga pelibatan aktif penumpang. Kepercayaan publik hanya pulih ketika mereka merasakan perubahan nyata di lapangan: bus lebih tertib, sopir lebih ramah, perjalanan lebih tenang. Pada akhirnya, keberhasilan layanan Trans Jatim tidak diukur dari seberapa cepat sampai, melainkan seberapa aman setiap orang kembali ke rumah.
www.bikeuniverse.net – Homo floresiensis sudah lama memicu rasa ingin tahu publik. Sosok mungil setinggi kurang…
www.bikeuniverse.net – Dunia sport kembali menyuguhkan kisah tak terduga dari lapangan hijau. Bukan gol spektakuler…
www.bikeuniverse.net – Persaingan industri asuransi kian sengit, margin laba terus tertekan, sementara nasabah menuntut layanan…
www.bikeuniverse.net – Acara isra mikraj Banyuwangi mendadak ramai dibahas publik. Bukan karena kedalaman tausiah, melainkan…
www.bikeuniverse.net – Rencana Pemprov Jakarta menggelontorkan sekitar Rp31 miliar untuk program modifikasi cuaca pada 2026…
www.bikeuniverse.net – Nusantara kembali diingatkan oleh alam pada pekan ketiga Januari. Ketika banyak orang baru…