Kapitil di KBBI: Guncangan Kecil di Panggung Linguistik
www.bikeuniverse.net – Masuknya kata kapitil ke KBBI sempat mengguncang jagat linguistik Indonesia. Bukan karena istilah itu baru, melainkan akibat statusnya yang mendadak resmi. Sebelumnya, banyak penutur menganggap bentuk sah hanya kapital. Saat KBBI menambahkan kapitil, perdebatan mengenai otoritas kamus, kebiasaan tutur, serta ejaan baku muncul lagi ke permukaan.
Fenomena ini menarik karena menyentuh jantung studi linguistik: hubungan kuasa antara pemakai bahasa serta lembaga pengatur. Apakah kamus bertugas memerintah, atau sekadar mencatat kebiasaan tutur? Ketika bentuk kontroversial seperti kapitil disahkan, publik dihadapkan pada pilihan sulit antara kesetiaan kepada kaidah tradisional maupun keterbukaan terhadap dinamika bahasa hidup.
Bagi banyak orang, istilah kapital terasa mapan. Hadir di ranah ekonomi, tipografi, hingga politik. Tiba-tiba, muncul saudara dekat bernama kapitil. Dalam perspektif linguistik historis, perbedaan vokal /a/ serta /i/ tersebut tampak sepele. Namun, variasi kecil kerap memantik tensi ketika menyangkut ejaan baku, terutama pada kata serapan yang sudah lama melekat di benak penutur.
Kontroversi bermula dari rasa tidak nyaman. Sebagian penutur menganggap kapitil terdengar ganjil, seolah kesalahan tulis yang dipaksakan sah. Sementara pihak lain mengingatkan bahwa bahasa bersifat cair. Variasi fonologis umum muncul dalam proses adaptasi serapan. Ilmu linguistik sudah lama mengakui bahwa perubahan semacam ini tidak bisa dihentikan melalui aturan semata.
Dari sini, pertarungan wacana menguat. Penutur awam mempersoalkan “konsistensi” KBBI. Para pemerhati linguistik justru melihat ini sebagai gejala wajar, meski menantang. KBBI bergerak di area abu-abu antara preskriptivisme dan deskriptivisme. Keputusan memasukkan kapitil memperlihatkan upaya menyeimbangkan norma tertulis serta kenyataan di lapangan, meskipun menimbulkan kebingungan awal.
Perdebatan mengenai kapitil sejatinya hanya wajah baru dari konflik lama dalam linguistik: kubu preskriptif melawan kubu deskriptif. Pendekatan preskriptif menekankan aturan baku, tata ejaan rapi, juga standar tunggal. Dalam pandangan ini, bentuk kapital sudah mapan, sehingga kehadiran alternatif dianggap mengacaukan ketertiban bahasa Indonesia tulis.
Di sisi lain, linguistik deskriptif mengamati fakta tutur apa adanya. Bila penutur cukup banyak memakai kapitil, kamus idealnya mencatat. Bukan karena bentuk itu lebih “benar”, melainkan karena bahasa milik pemakai, bukan sekadar milik lembaga. KBBI, sebagai rujukan nasional, pada akhirnya tidak dapat menutup mata terhadap variasi yang hidup di ruang publik, baik media sosial maupun teks profesional.
Pandangan pribadi saya condong ke posisi tengah. Norma tetap dibutuhkan untuk kejelasan komunikasi, terutama di pendidikan formal. Namun disiplin linguistik mengajarkan bahwa norma tidak boleh mematikan keragaman yang lahir secara organik. KBBI sebaiknya transparan mengenai status variasi baru: menjelaskan riwayat, tingkat keberterimaan, serta konteks penggunaan, agar penutur dapat memilih secara sadar, bukan sekadar menurut.
Bagi penulis profesional, guru, maupun pelajar, kemunculan kapitil di KBBI menuntut sikap lebih cermat sekaligus lentur. Di ruang akademik, bentuk kapital masih terasa aman karena sudah lama mengakar. Namun pengetahuan linguistik mendorong kita memahami alasan hadirnya alternatif. Guru bahasa dapat memanfaatkan kasus ini sebagai materi diskusi kritis mengenai otoritas kamus, evolusi serapan, juga tarik-menarik antara tradisi serta inovasi. Pada akhirnya, dilema kapital versus kapitil mengingatkan bahwa bahasa tidak pernah sepenuhnya selesai; ia terus berubah, sementara kita belajar menegosiasikan identitas, ketepatan, serta kenyamanan tutur di tengah perubahan tersebut.
Bila menengok percakapan daring, kita mendapati bentuk lisan tertulis yang sering menyimpang dari ejaan resmi. Ranah linguistik menyebut fenomena ini sebagai variasi ragam. Penutur menggunakan bentuk ringkas, bercampur bahasa asing, bahkan sengaja melanggar kaidah demi gaya. Ketika sebagian variasi tersebut berulang serta meluas, kamus menghadapi dilema: mengabaikan atau mengakui?
Masuknya kapitil mengisyaratkan bahwa batas antara bahasa baku maupun bahasa sehari-hari kian tipis. Ruang digital mempercepat sirkulasi bentuk alternatif sehingga cepat terasa akrab. Ketika KBBI merespons, sebagian orang menilai langkah itu terlalu longgar. Namun dari sudut pandang linguistik kontemporer, respons tersebut justru mencerminkan kesadaran bahwa kamus kini bersaing dengan mesin pencari, media sosial, serta korpus bahasa daring.
Saya melihat perkembangan ini sebagai tantangan literasi baru. Generasi muda perlu memahami bahwa ada lapisan ragam bahasa: santai, semi formal, hingga formal. Keputusan KBBI mungkin terkesan mengaburkan batas, namun sebenarnya memberi peluang pendidikan linguistik praktis. Guru dapat menunjukkan bagaimana satu kata bergerak dari slang, kemudian variasi serius, hingga akhirnya masuk kamus dengan label khusus.
Selama ini, KBBI kerap diposisikan sebagai “hakim tunggal” kebenaran berbahasa. Sikap itu mudah dipahami, sebab lembaga resmi memberi rasa aman bagi penulis, penerjemah, maupun penguji. Namun perspektif linguistik kritis mengingatkan, kamus tidak sepenuhnya netral. Ia merefleksikan pilihan politik bahasa, preferensi kultural, serta kompromi antara banyak kepentingan yang saling bertabrakan.
Kasus kapitil menyingkap bagaimana keputusan leksikografis bisa menimbulkan kegaduhan publik. Tiba-tiba, masyarakat menyadari bahwa entri kamus bukan sekadar urusan teknis. Ada proses seleksi, penilaian, juga perdebatan konseptual di balik setiap kata. Bagi saya, momen seperti ini justru sehat bagi ekosistem linguistik nasional, karena memaksa lembaga pengelola bahasa menjelaskan cara kerja mereka secara terbuka.
KBBI idealnya bergerak dari citra penjaga gerbang menjadi cermin kolektif. Alih-alih sekadar menentukan benar salah, kamus dapat lebih banyak memberi label: formal, nonbaku, cakapan, slang, teknis, atau arkais. Pendekatan ini sesuai prinsip linguistik modern yang lebih bernuansa. Penutur pun memperoleh informasi lebih lengkap, bukan sekadar vonis satu kata boleh atau tidak boleh dipakai.
Kegaduhan seputar kapitil sebenarnya mencerminkan kegelisahan lebih luas: ketakutan bahwa bahasa Indonesia akan tergelincir ke arah kekacauan. Ilmu linguistik memberi perspektif menenangkan. Bahasa senantiasa berubah, namun tidak otomatis memburuk. Tugas kita bukan membekukan perubahan, melainkan mengembangkan kepekaan. Ketika kamus memasukkan bentuk baru, kita berhak kritis, bertanya, menimbang, lalu memilih. Dari proses ini, lahir komunitas penutur yang bukan hanya patuh aturan, melainkan juga melek bahasa, peka konteks, serta mampu merefleksikan identitas budayanya sendiri. Pada akhirnya, kontroversi kecil seperti kapitil membantu kita menyadari betapa besar pengaruh satu kata terhadap cara kita memandang dunia.
www.bikeuniverse.net – Proyek bibit nanas di Sulawesi Selatan mendadak jadi sorotan setelah hasil audit BPK…
www.bikeuniverse.net – Liverpool memasuki fase gelombang tinggi setelah kekalahan 1-2 dari Manchester City, hasil yang…
www.bikeuniverse.net – Percepatan pembangunan hunian sementara di Tapanuli Selatan bukan sekadar kabar lokal. Langkah Kementerian…
www.bikeuniverse.net – Keputusan Pemerintah Provinsi Jateng untuk memperketat izin usaha industri berisiko tinggi terhadap lingkungan…
www.bikeuniverse.net – Gagasan besar sering lahir dari kebutuhan sederhana: membuat jamaah merasa lebih tenang sebelum…
www.bikeuniverse.net – Berita tentang kepergian sosok sepuh selalu menghadirkan nuansa berbeda di tengah hiruk-pikuk news…