alt_text: Gambar menggambarkan hubungan antara anak-anak, algoritma media sosial, dan pentingnya literasi digital.

Radikalisme di Medsos: Anak, Algoritma, dan Literasi

0 0
Read Time:5 Minute, 33 Second

www.transformingdigitaleducation.com – Berita tentang 11 anak di Jawa Timur terpapar radikalisme lewat media sosial seharusnya menjadi alarm keras bagi orang tua, pendidik, juga pembuat kebijakan. Kasus ini bukan sekadar angka, melainkan cermin rapuhnya tameng literasi digital di rumah, sekolah, serta ruang publik. Radikalisme kini tidak lagi menyusup lewat ruang tertutup, melainkan hadir melalui gawai yang selalu berada di genggaman anak.

Fenomena tersebut mengungkap fakta pahit: kita sering berlomba memberi perangkat canggih, namun tertinggal jauh dalam membekali kecakapan mengelola informasi. Radikalisme memanfaatkan celah naifnya rasa ingin tahu, rasa penasaran pada identitas, serta kebutuhan diakui. Tanpa literasi digital kuat, media sosial berubah menjadi jalan tol penyebaran ide berbahaya dengan kecepatan luar biasa.

Radikalisme di Era Medsos: Ancaman Sunyi pada Anak

Radikalisme masa lalu banyak bergerak lewat pertemuan fisik, selebaran, juga jaringan tertutup. Kini pola tersebut berevolusi menjadi konten singkat, video emosional, hingga meme provokatif. Anak mudah terpikat karena formatnya ringan, penuh visual, serta sering dibalut narasi heroik. Algoritma lalu memperkuat paparan itu dengan rekomendasi sejenis setiap hari.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa radikalisme memanfaatkan tiga kelemahan utama. Pertama, minimnya pendampingan orang dewasa ketika anak menjelajah internet. Kedua, kurangnya pemahaman kritis mengenai sumber informasi. Ketiga, ketimpangan antara kecanggihan teknologi dan kematangan psikologis. Perpaduan faktor itu membuat konten ekstrem tampak menarik, bahkan dianggap kebenaran tunggal.

Menurut saya, persoalan utama bukan hanya kehadiran konten radikal, melainkan ketiadaan “filter internal” pada diri pengguna muda. Filter ini tumbuh lewat kebiasaan bertanya, berdebat sehat, serta kemampuan membaca konteks sosial politik. Tanpa itu, radikalisme mudah menyusup lewat kalimat sederhana seperti “kita korban ketidakadilan” lalu berkembang menjadi kebencian terhadap kelompok berbeda.

Bagaimana Radikalisme Menyusup Lewat Layar Kecil

Media sosial memberi ruang luas bagi narasi hitam putih tentang dunia. Radikalisme sering memulai pendekatan dengan membangun rasa kedekatan emosional. Akun tertentu menampilkan sosok yang tampak hangat, religius, juga peduli, sebelum perlahan menyisipkan gagasan intoleran. Anak jarang curiga karena merasakan dukungan, terutama ketika mereka merasa terasing di lingkungan nyata.

Selain itu, pola komunikasi satu arah di internet membuat radikalisme mudah menyusun “kurikulum” sendiri. Dimulai dari konten motivasi, berlanjut ke kritik sosial, lalu perlahan mengarah ke ajakan konfrontatif. Proses ini halus, jarang disadari, bahkan kadang dikemas sebagai “pencerahan”. Gawai menjadi ruang kelas tersembunyi tanpa pengawas, tanpa guru pendamping, tanpa koreksi nilai kemanusiaan.

Dari sudut pandang pribadi, saya melihat aspek yang sering terlupakan: kebutuhan makna hidup. Anak, terutama remaja, mencari jawaban mengenai tujuan hidup, keadilan, serta identitas. Radikalisme menawarkan paket jawaban instan, sederhana, juga tegas. Di tengah rasa bingung, jawaban tegas terasa menenangkan, meski mengorbankan nalar sehat serta empati.

Peran Literasi Digital: Tameng Utama Hadapi Radikalisme

Literasi digital kerap disalahpahami sekadar kemampuan mengoperasikan gawai atau aplikasi. Padahal, inti literasi digital adalah kapasitas menafsirkan, memilah, juga mengevaluasi pesan. Tanpa itu, anak hanya menjadi pengguna pasif, bukan subjek kritis yang mampu menolak radikalisme. Literasi digital seharusnya membuat anak berani bertanya: “Siapa yang bicara? Untuk tujuan apa?”

Program literasi perlu melampaui slogan “gunakan internet secara bijak”. Anak butuh contoh konkret: bagaimana memeriksa ulang informasi, mengenali framing bias, serta membaca pola provokasi. Diskusi kelas dapat menampilkan konten nyata lalu mengurai logikanya. Melalui latihan semacam ini, radikalisme tidak lagi tampil sebagai kebenaran tunggal, melainkan opini yang bisa diuji.

Saya meyakini literasi digital efektif ketika dijalankan serempak oleh keluarga, sekolah, juga komunitas. Orang tua perlu belajar bersama anak, bukan sekadar mengawasi dari kejauhan. Guru perlu menautkan materi pelajaran dengan realitas media sosial, bukan hanya buku teks. Komunitas, termasuk lembaga keagamaan, perlu aktif memproduksi konten positif yang menyaingi narasi radikal.

Orang Tua, Guru, dan Negara: Siapa Bertanggung Jawab?

Pertanyaan mengenai siapa paling bertanggung jawab kerap berakhir pada saling menyalahkan. Orang tua merasa negara kurang tegas mengawasi platform. Pemerintah menuntut peran keluarga. Sekolah terjepit di tengah. Sementara itu, radikalisme terus bergerak lewat arus konten harian. Dalam pandangan saya, keluarnya anak dari jebakan ideologis hanya mungkin jika ketiganya bersama-sama turun tangan.

Orang tua memegang peran pertama melalui komunikasi hangat dan rutin. Percakapan mengenai berita, konflik, juga perbedaan pandangan perlu menjadi kebiasaan di rumah. Bukan sekadar melarang konten populer, melainkan mengajak anak membedah pesan di baliknya. Ketika anak terbiasa berdiskusi, ia tidak mudah terpesona oleh narasi radikalisme yang menutup ruang tanya.

Sementara itu, sekolah dapat menjadikan kasus nyata sebagai bahan belajar kritis. Topik radikalisme tidak perlu ditabukan, justru layak dibicarakan secara terbuka, terukur, serta berbasis data. Guru dapat mengajak siswa menganalisis postingan provokatif lalu menyusun argumen tandingan. Pendekatan ini menempatkan siswa sebagai pemikir aktif, bukan penerima materi satu arah.

Algoritma, Ekonomi Klik, dan Tanggung Jawab Platform

Satu sisi lain yang sering luput ialah peran algoritma serta ekonomi perhatian. Konten radikalisme biasanya dirancang memicu emosi kuat: marah, takut, atau merasa paling benar. Emosi semacam itu menghasilkan klik, komentar, juga bagikan yang berlimpah. Platform kemudian menganggap konten tersebut relevan lalu menaikkan jangkauannya. Siklus ini berputar terus, menembus batas usia.

Dari perspektif etika, perusahaan teknologi tidak bisa hanya bersembunyi di balik dalih “netralitas platform”. Saat fitur rekomendasi turut menyebarkan radikalisme ke layar anak, ada tanggung jawab moral yang tidak bisa diabaikan. Filter otomatis, pelaporan pengguna, serta penghapusan konten berbahaya memang sudah berjalan, tetapi sering tertinggal dibanding kecepatan produksi materi ekstrem.

Saya melihat perlunya kombinasi regulasi lebih tegas serta tekanan publik terhadap platform. Negara dapat mendorong transparansi algoritma, sementara masyarakat sipil memantau kebijakan moderasi konten. Di sisi lain, pengguna perlu memahami cara kerja rekomendasi, lalu dengan sadar mengatur preferensi tontonan. Kedaulatan digital dimulai ketika kita paham bahwa setiap klik membentuk “ruang ideologi” pribadi.

Membangun Imunitas Psikologis terhadap Radikalisme

Pencegahan radikalisme tidak dapat bertumpu pada pemblokiran konten semata. Anak justru perlu memiliki “imunitas psikologis” terhadap ide kebencian. Imunitas ini tumbuh dari tiga hal utama: rasa aman emosional, pengalaman berinteraksi dengan keberagaman, serta keterampilan mengelola konflik. Ketika kebutuhan ini terpenuhi, narasi ekstrem menjadi kurang menarik.

Pengalaman bergaul dengan teman berbeda suku, agama, atau pandangan politik, memperkaya perspektif. Anak belajar bahwa perbedaan tidak otomatis mengancam, melainkan peluang memahami dunia dari sudut lain. Narasi radikalisme yang menggambarkan kelompok lain sebagai musuh akhirnya terbentur dengan pengalaman pribadi anak: “Nyatanya teman saya baik-baik saja.”

Menurut saya, pendidikan karakter perlu menggeser fokus dari sekadar hafalan nilai menuju praktik nyata di keseharian. Proyek sosial, kerja bakti lintas komunitas, atau diskusi isu publik, membuat empati tumbuh alami. Ketika empati kuat, sulit bagi radikalisme memerintah seseorang untuk melukai pihak lain demi ideologi abstrak.

Refleksi: Menghadapi Radikalisme dengan Kepala Jernih

Kasus 11 anak di Jawa Timur seharusnya bukan hanya menjadi berita sesaat, lalu tenggelam ditelan arus konten baru. Kejadian ini mengajak kita bercermin: seberapa serius kita membangun benteng literasi digital, bukan hanya memasang pagar fisik di rumah. Radikalisme tidak akan hilang sepenuhnya, tetapi dampaknya dapat diperkecil ketika anak terbiasa berpikir kritis, berempati, serta terbuka pada dialog. Tugas kita bersama adalah menjadikan gawai bukan sekadar jendela dunia, melainkan ruang aman untuk tumbuh sebagai manusia merdeka, bukan pengikut buta ide apa pun.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %