alt_text: Kasus pemerasan izin TKA berlanjut; pembayaran tak terhenti meski pelaku sudah pensiun.

Kasus Pemerasan Izin TKA: Uang Tak Henti Meski Pensiun

0 0
Read Time:2 Minute, 45 Second

www.bikeuniverse.net – Kasus pemerasan izin TKA kembali mengguncang kepercayaan publik terhadap lembaga penegak hukum. Bukan sekadar soal suap biasa, perkara ini menyingkap aliran duit yang terus mengucur meski pejabat terkait sudah berstatus pensiunan. Fenomena ganjaran ilegal pascapensiun ini memunculkan pertanyaan besar: seberapa dalam praktik rente mengakar di balik proses perizinan tenaga kerja asing?

Di tengah sorotan tajam publik, kasus pemerasan izin TKA menjadi cermin rapuhnya integritas aparat yang seharusnya melindungi kepentingan negara. Ketika mantan pejabat masih menikmati setoran reguler dari pelaku usaha, jelas ada sistem gelap yang telanjur mapan. Tulisan ini mengulas duduk perkara, menganalisis pola permainan, sekaligus menawarkan sudut pandang kritis mengenai betapa lemahnya pengawasan terhadap celah koruptif di sektor perizinan TKA.

Pola Uang yang Terus Mengalir Meski Sudah Pensiun

Kasus pemerasan izin TKA biasanya tidak berdiri sendiri. Ia tumbuh dari pola hubungan jangka panjang antara mantan pejabat berpengaruh dengan pengusaha yang butuh kelancaran perizinan. Ketika masih menjabat, oknum membangun reputasi sebagai “pengatur izin” yang mampu menyelesaikan berkas bermasalah. Setelah purna tugas, jejaring itu tidak bubar, justru bertransformasi menjadi relasi bisnis gelap berbasis setoran rutin.

Fenomena aliran dana pascapensiun mengindikasikan adanya kontrak tak tertulis. Pengusaha seolah membayar “jaminan keamanan” agar proses perizinan TKA tetap mulus, walau pejabat sudah tidak menempati kursi formal. Dalam banyak kasus, figur pensiunan ini tetap memiliki akses informal ke pejabat aktif, memanfaatkan kedekatan pribadi, senioritas, atau jasa budi di masa lalu. Di titik ini, pensiun hanya status administratif, bukan batas pengaruh.

Dari sudut pandang pribadi, pola tersebut menyerupai “pensiun berbayar” lewat korupsi struktural. Negara menggaji pejabat sampai masa purna bhakti, tetapi sebagian memilih menambah pemasukan melalui skema pemerasan. Kasus pemerasan izin TKA memperlihatkan bahwa akar masalah tidak berhenti pada individu serakah. Ada kultur transaksional yang melegitimasi praktik “ucapan terima kasih” berulang, hingga sulit dibedakan mana hadiah wajar, mana pemerasan sistematis.

Mengapa Izin TKA Jadi Lahan Rente Menggiurkan?

Untuk memahami mengapa kasus pemerasan izin TKA terus bermunculan, perlu melihat sifat bisnis yang bergantung pada tenaga kerja asing. Banyak perusahaan tambang, energi, hingga industri teknologi tinggi masih membutuhkan keahlian tertentu dari luar negeri. Keterlambatan perizinan bisa menunda proyek, memicu kerugian besar. Tekanan waktu membuat pengusaha rela membayar lebih demi percepatan proses.

Prosedur perizinan TKA juga kerap membingungkan. Aturan berubah, dokumen menumpuk, koordinasi lintas instansi tidak sinkron. Kondisi tersebut membuka celah bagi “makelar kebijakan” yang menawarkan jasa pengurusan ekspres. Di sinilah oknum pejabat, termasuk yang sudah pensiun, menemukan ruang bermain. Mereka menjual pengetahuan prosedural sekaligus pengaruh, lalu mengemasnya sebagai “konsultasi” atau “jasa pendampingan” padahal hakikatnya pemerasan.

Dari kacamata penulis, problem lain terletak pada logika ekonomi politik sektor sumber daya alam. Banyak kasus pemerasan izin TKA terjadi di daerah kaya tambang. Ketimpangan kekuasaan antara korporasi besar, pejabat lokal, serta masyarakat menciptakan rantai transaksi bawah meja. Izin TKA hanyalah satu simpul dari rangkaian izin lain, seperti eksplorasi, lingkungan, hingga perpajakan. Selama struktur keuntungan begitu timpang, lahan rente akan tetap subur.

Peran Pengawasan dan Tanggung Jawab Publik

Kasus pemerasan izin TKA tidak bisa hanya dibebankan pada aparat penegak hukum. Publik memiliki peran penting melalui tekanan sosial, pemantauan media, serta partisipasi masyarakat sipil. Transparansi prosedur perizinan, kebijakan pelaporan gratifikasi yang efektif, hingga perlindungan pelapor pelanggaran mutlak diperkuat. Tanpa itu, pensiunan berkuasa akan terus memonetisasi jaringan lama. Pada akhirnya, refleksi terpenting bagi kita: apakah bersedia membiarkan korupsi menggerogoti masa depan generasi mendatang, atau mulai bersikap intoleran terhadap segala bentuk normalisasi “uang pelicin”, sekecil apa pun.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %